Taman Nasional Ujung Kulon
Menurut saya, sekarang ini kota
yang paling enak ditempati adalah Kota Serang atau Cilegon kenapa demikian,,???
Pertama kalau kita mau ke Jakarta dengan naik bus dan hanya membutuhkan waktu
antara 3 – 4 Jam kita sudah sampai ke ibukota negara, sepeti minggu kemarin ketika
ada pameran buku di JCC Senayan dengan ongkos tiga puluh ribu saya sudah bisa
ke Jakarta. Kemudian kalau kita ingin kebeberapa tempat wisata di Banten
Selatan seperti Anyer, Carita, Tanjung Lesung, Ujung Kulon, Perkampungan Badui
dan Sawarna, dari kota Serang atau Cilegon jaraknya tidak terlalu jauh dan
apabila kita pakai kendaraan sendiri seperti sepeda motor biayanya cukup
terjangkau.
Seperti hari sabtu kemarin
tanggal 12 September 2015, kebetulan libur jadi saya manfaatin untuk refresing
untuk menghilangkan kepenatan akibat kerjaan yang tidak habis – habisnya,
berangkat dari rumah kontrakan di PCI Cilegon sekitar pukul 05 : 30, tadinya
saya mau ngajak istri dan anak namun karena istri ragu – ragu dan saya juga
membayangkan betapa akan melelahkannya mereka nantinya, akhirnya saya putuskan
berangkat sendirian pakai motor kesayangan, dari rumah lewat jalur lingkar
selatan kota Cilegon, kemudian lewat Mancak, Anyer, Cinangka, Carita dan
Labuan, sampai di kota kecamatan Labuan saya berhenti sejenak untuk isi bensin
dan istirahat, setelah dirasa cukup, perjalanan saya lanjutkan lagi, dari Labuan,
Panimbang, kemudian belok kiri kearah Cibaliung, dan akhirnya saya sampai di
kecamatan Sumur tempat yang saya tuju, sepanjang perjalanan kondisi jalan sudah
lumayan lumus walaupun ada beberapa titik di daerah Cigeulis sedang ada
perbaikan jalan dan jembatan, tapi jalanan relatif lancar tanpa ada rintangan
yang berarti, sepanjang perjalanan dari Anyer sampai Carita kita akan disuguhi
dengan suara debur ombak pantai yang indah, karena hari masih pagi dan hari
Sabtu jadi belum banyak para wisatawan yang berkunjung kesana, kemudian dari
jalur Cibaliung sampai Sumur kita akan disuguhi pemandangan khas daerah
pegunungan, namun kali ini karena cuaca kemarau jadi banyak areal persawahan
dan hutan yang kering akibat kekurangan air, sampai di tugu selamat datang di Ujung
Kulon saya berhenti sejenak untuk istirahat dan berfoto ria.
Kemudian perjalanan saya
lanjutkan ke Kecamatan Sumur, sampai di pasar Sumur saya mencari rumah makan buat
ngisi tangki perut saya yang sudah keroncongan, sambil makan saya nanya – nanya
ke ibu yang punya warung dimana ada penginapan yang murah,,?? Kemudian sama si
ibu tadi disebutin nama penginapan wisma edi yang arahnya dari pertigaan
indomaret lurus saja, dari situ saya cari papan wisma edi tapi ternyata tidak
saya jumpai dari ujung jalan yang jalannya sudah dibeton sampai jalan yang
kondisinya Cuma makadam saja, yang ada disitu Villa Ciputih yang buat kantong saya
tentunya tidak akan terjangkau, sepanjang jalan tadi kita akan disuguhi dengan
pemandangan pantai biru yang masih sangat alami dan indah, deburan ombaknya
tidak terlalu besar dan pasir pantainya yang putih membentang dari ujung pantai
yang satu ke ujung pantai yang lain, kemudian karena lelah saya tanya – tanya lagi
ke penduduk sekitar barangkali ada penginapan, dan ternyata memang adanya Cuma disekitar
pasar sumur, kalau saya perhatikan warga sekitar situ kurang jeli dalam menangkap
peluang usaha, harusnya ( menurut saya ) sekarang ini khan banyak para
wisatawan yang berkunjung ke daerah Ujung Kulon, namun tidak semua orang punya
kantong tebal untuk menyewa villa, alangkah bagusnya kalau warga sekitar
menyewakan sebagian kamarnya untuk para pelancong yang berkantong tipis,
seperti yang ada di pantai Sawarna banyak rumah warga yang dijadikan homestay,
kemudian untuk mensiasati kebuntuan dalam mencari penginapan saya berhenti
disalah satu warung untuk beli minuman dingin dan sekalian bertanya barangkali
dia tahu penginapan yang murah dan ternyata dari informasi ibu tersebut yang
dimaksud dengan wisma edi adalah wisma sarang badak yang letaknya tidak jauh
dari pertigaan indomaret, jadi ternyata edi itu adalah nama pemilik dari wisma
tersebut, kemudian dengan segera saya pergi ke wisma tersebut dan alhamdulilah
ternyata masih ada kamar yang kosong, kebetulan waktu saya ke sana kondisi
wisma cukup ramai karena banyaknya motor yang parkir dipelataran wisma, dengan
membayar biaya penginapan seratus ribu rupiah, saya bisa menghilangkan penat.
Setelah mandi saya pergi jalan –
jalan lagi untuk mengexplor daerah sumur, karena tujuan saya kalau pergi
kesuatu tempat saya tidak akan tinggal diam dikamar penginapan, saya akan
manfaatkan waktu yang ada untuk jalan – jalan walaupun nanti akibatnya badan
akan pegal – pegal,,namun tak jadi apa yang penting badan dan pikiran saya
waktu itu senang dan gembira. Dengan mengunakan sepeda motor saya main ke
pantai yang menurut saya cukup indah, pasir putihnya yang membentang membuat
sepeda motor bisa berjalan diatas pasir tanpa takut untuk terperosok, kemudian
pantainya juga dengan air laut yang membiru membuat saya ingin segera berenang
di pantai yang cukup sepi pengunjung, waktu saya kesana Cuma ada saya dan
beberapa tamu villa yang bermain dipantai tersebut, dari tukang yang lagi bikin
pagar sebuah villa saya tahu nama pantai tersebut yaitu PANTAI CINIBUNG, kondisi pantainya bersih dari kotoran sampah,
kemudian ombaknya yang landai membuat aman untuk mengajak anak – anak berenang
disana, di pantai cinibung saya mengexplor objek – objek buat dokumentasi foto,
kalau kita berenang di pantai tersebut seolah – olah itu pantai kepunyaan kita
saja karena sepinya pengunjung, saran saya kalau kita mau main ke pantai
cinibung bawa bekal makanan yang cukup karena disana tidak ada warung penjualan
makanan atau minuman. Setelah puas berenang akhirnya saya balik lagi ke
penginapan,,NAMUN TERNYATA,,,ketika saya mau mandi airnya tidak mengalir,,masih
untung tadi waktu saya mandi yang pertama itu masih ada stok air di ember jadi
bisa saya manfaatkan buat bilas, yang bikin saya kesal sama pak edi yang punya
penginapan tersebut adalah dia lebih memprioritaskan rombongan tamu yang
menginap di kamar belakang, dia bilang kepada saya dan tamu yang menginap
dikamar sebelah saya untuk tidak membuka kran karena air dikamar belakang tidak
keluar, boro – boro ketika kran dibuka airnya keluar,,kamipun sama tidak ada
air, akhirnya dari pada kesal kalau tetap berada di kamar saya pergi jalan –
jalan saja ke pasar sumur, waktu itu hari sudah mulai gelap, saya pikir seperti
daerah wisata yang lain kalau malam ada geliat kehidupan hiburan malam, namun
ternyata di sumur tidak ada sama sekali tempat hiburan malam yang ada adalah
suasana yang sunyi dan sepi, seolah – olah kita benar – benar hidup didaerah pedalaman,
kemudian karena tidak ada suasana yang khas dari daerah ini, sayapun balik lagi
ketempat penginapan dan ternyata air belum juga keluar,,dengan perasaan yang
dongkol saya tidur saja, dengan ditemani oleh suara hembusan angin yang cukup
kencang membuat suasana jadi makin mencekam,tapi akhirnya saya tertidur juga.
Esok harinya sebelum azan subuh
berkumandang saya sudah bangun,namun ternyata air belum juga mengalir dari
kran, saya pun komplain kepada ibu yang jaga wisma, kemudian ke pak edi
juga,tapi kata pak edi karena kondisi musim kemarau jadi kesulitan air,namun
hal itu bukan suatu alasan yang bisa diterima oleh saya,,harusnya pak edi
sebagai pemilik wisma sarang badak sudah bisa mengantisipasi kondisi seperti
ini,dia bikin bak penampungan air yang besar supaya tidak ada masalah air buat
pengunjung wismanya, dan saya lihat juga nih orang typenya pengin untung gede
dari tempat usahanya tapi tidak memberikan kenyamanan buat pengunjung, misalkan
adalah di depan wisma itu jalanan sudah dibeton jadi ada rentang antara jalan
beton dengan jalan menuju ke wisma dia yang cukup dalam yang bikin pengendara
agak kerepotan, nah sama dia itu jalan sama sekali tidak ditambal supaya orang
yang mau ketempat usahnya jadi enak untuk keluar masuk, memang susah kalau
usaha belum ada pesaingnya jadi pola pikir dia yang butuh tuh kita para
pelancong bukan dia sipemilik wisma, mungkin kalau disitu banyak penginapan
barulah dia berpikir untuk berbuat yang lebih baik dalam memberikan pelayanan
kepada tamu karena sudah ada pesaingnya.
Setelah sholat subuh saya
jalan - jalan lagi ketepian pantai kali
ini saya menuju kepantai yang dekat dengan penyeberangan ke pulau umang, kalau
disitu kondisi pantainya agak kotor mungkin karena dekat dengan perahu nelayan
yang pada bersandar, setelah puas melihat pantai saya mencari orang yang jual
sarapan pagi buat ngisi perut, dan akhirnya dapat kebetulan ibu yang jualan
nasi uduk tersebut orangnya enak diajak ngobrol, jadi sambil makan saya ngobrol
sama beliau, dan ternyata penginapan didaerah sumur tidak hanya wisma sarang
badak saja ada juga wisma rhino yan letaknya dekat dengan pasar sumur,disitu
menurut penuturan sang ibu tadi fasilitasnya memang nga jauh berbeda dengan
wisma sarang badak, namun kalau masalah air tidak pernah ada kecuali kalau
listrik mati karena memang belum ada genset, setelah kenyang sayapun jalan –
jalan lagi ke lokasi PANTAI CINIBUNG, disana saya lihat ada beberapa orang yang
lagi mancing, karena sudah tidak ada lagi celana pendek buat mandi, akhirnya
saya cuma sebentar doang disana, dan saya balik lagi ke penginapan, ketika saya
buka kran ternyata air sudah keluar jadi langsung saja saya mandi dan berkemas
untuk pulang lagi ke rumah karena sudah kangen dengan celotehan anak saya.
Demikian sekilas perjalanan saya
ke Taman Nasional Ujung Kulon,,terima kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar