Minggu, 13 September 2015

Taman Nasional Ujung Kulon


Menurut saya, sekarang ini kota yang paling enak ditempati adalah Kota Serang atau Cilegon kenapa demikian,,??? Pertama kalau kita mau ke Jakarta dengan naik bus dan hanya membutuhkan waktu antara 3 – 4 Jam kita sudah sampai ke ibukota negara, sepeti minggu kemarin ketika ada pameran buku di JCC Senayan dengan ongkos tiga puluh ribu saya sudah bisa ke Jakarta. Kemudian kalau kita ingin kebeberapa tempat wisata di Banten Selatan seperti Anyer, Carita, Tanjung Lesung, Ujung Kulon, Perkampungan Badui dan Sawarna, dari kota Serang atau Cilegon jaraknya tidak terlalu jauh dan apabila kita pakai kendaraan sendiri seperti sepeda motor biayanya cukup terjangkau.

Seperti hari sabtu kemarin tanggal 12 September 2015, kebetulan libur jadi saya manfaatin untuk refresing untuk menghilangkan kepenatan akibat kerjaan yang tidak habis – habisnya, berangkat dari rumah kontrakan di PCI Cilegon sekitar pukul 05 : 30, tadinya saya mau ngajak istri dan anak namun karena istri ragu – ragu dan saya juga membayangkan betapa akan melelahkannya mereka nantinya, akhirnya saya putuskan berangkat sendirian pakai motor kesayangan, dari rumah lewat jalur lingkar selatan kota Cilegon, kemudian lewat Mancak, Anyer, Cinangka, Carita dan Labuan, sampai di kota kecamatan Labuan saya berhenti sejenak untuk isi bensin dan istirahat, setelah dirasa cukup, perjalanan saya lanjutkan lagi, dari Labuan, Panimbang, kemudian belok kiri kearah Cibaliung, dan akhirnya saya sampai di kecamatan Sumur tempat yang saya tuju, sepanjang perjalanan kondisi jalan sudah lumayan lumus walaupun ada beberapa titik di daerah Cigeulis sedang ada perbaikan jalan dan jembatan, tapi jalanan relatif lancar tanpa ada rintangan yang berarti, sepanjang perjalanan dari Anyer sampai Carita kita akan disuguhi dengan suara debur ombak pantai yang indah, karena hari masih pagi dan hari Sabtu jadi belum banyak para wisatawan yang berkunjung kesana, kemudian dari jalur Cibaliung sampai Sumur kita akan disuguhi pemandangan khas daerah pegunungan, namun kali ini karena cuaca kemarau jadi banyak areal persawahan dan hutan yang kering akibat kekurangan air, sampai di tugu selamat datang di Ujung Kulon saya berhenti sejenak untuk istirahat dan berfoto ria.

Kemudian perjalanan saya lanjutkan ke Kecamatan Sumur, sampai di pasar Sumur saya mencari rumah makan buat ngisi tangki perut saya yang sudah keroncongan, sambil makan saya nanya – nanya ke ibu yang punya warung dimana ada penginapan yang murah,,?? Kemudian sama si ibu tadi disebutin nama penginapan wisma edi yang arahnya dari pertigaan indomaret lurus saja, dari situ saya cari papan wisma edi tapi ternyata tidak saya jumpai dari ujung jalan yang jalannya sudah dibeton sampai jalan yang kondisinya Cuma makadam saja, yang ada disitu Villa Ciputih yang buat kantong saya tentunya tidak akan terjangkau, sepanjang jalan tadi kita akan disuguhi dengan pemandangan pantai biru yang masih sangat alami dan indah, deburan ombaknya tidak terlalu besar dan pasir pantainya yang putih membentang dari ujung pantai yang satu ke ujung pantai yang lain, kemudian karena lelah saya tanya – tanya lagi ke penduduk sekitar barangkali ada penginapan, dan ternyata memang adanya Cuma disekitar pasar sumur, kalau saya perhatikan warga sekitar situ kurang jeli dalam menangkap peluang usaha, harusnya ( menurut saya ) sekarang ini khan banyak para wisatawan yang berkunjung ke daerah Ujung Kulon, namun tidak semua orang punya kantong tebal untuk menyewa villa, alangkah bagusnya kalau warga sekitar menyewakan sebagian kamarnya untuk para pelancong yang berkantong tipis, seperti yang ada di pantai Sawarna banyak rumah warga yang dijadikan homestay, kemudian untuk mensiasati kebuntuan dalam mencari penginapan saya berhenti disalah satu warung untuk beli minuman dingin dan sekalian bertanya barangkali dia tahu penginapan yang murah dan ternyata dari informasi ibu tersebut yang dimaksud dengan wisma edi adalah wisma sarang badak yang letaknya tidak jauh dari pertigaan indomaret, jadi ternyata edi itu adalah nama pemilik dari wisma tersebut, kemudian dengan segera saya pergi ke wisma tersebut dan alhamdulilah ternyata masih ada kamar yang kosong, kebetulan waktu saya ke sana kondisi wisma cukup ramai karena banyaknya motor yang parkir dipelataran wisma, dengan membayar biaya penginapan seratus ribu rupiah, saya bisa menghilangkan penat.

Setelah mandi saya pergi jalan – jalan lagi untuk mengexplor daerah sumur, karena tujuan saya kalau pergi kesuatu tempat saya tidak akan tinggal diam dikamar penginapan, saya akan manfaatkan waktu yang ada untuk jalan – jalan walaupun nanti akibatnya badan akan pegal – pegal,,namun tak jadi apa yang penting badan dan pikiran saya waktu itu senang dan gembira. Dengan mengunakan sepeda motor saya main ke pantai yang menurut saya cukup indah, pasir putihnya yang membentang membuat sepeda motor bisa berjalan diatas pasir tanpa takut untuk terperosok, kemudian pantainya juga dengan air laut yang membiru membuat saya ingin segera berenang di pantai yang cukup sepi pengunjung, waktu saya kesana Cuma ada saya dan beberapa tamu villa yang bermain dipantai tersebut, dari tukang yang lagi bikin pagar sebuah villa saya tahu nama pantai tersebut yaitu PANTAI CINIBUNG, kondisi pantainya bersih dari kotoran sampah, kemudian ombaknya yang landai membuat aman untuk mengajak anak – anak berenang disana, di pantai cinibung saya mengexplor objek – objek buat dokumentasi foto, kalau kita berenang di pantai tersebut seolah – olah itu pantai kepunyaan kita saja karena sepinya pengunjung, saran saya kalau kita mau main ke pantai cinibung bawa bekal makanan yang cukup karena disana tidak ada warung penjualan makanan atau minuman. Setelah puas berenang akhirnya saya balik lagi ke penginapan,,NAMUN TERNYATA,,,ketika saya mau mandi airnya tidak mengalir,,masih untung tadi waktu saya mandi yang pertama itu masih ada stok air di ember jadi bisa saya manfaatkan buat bilas, yang bikin saya kesal sama pak edi yang punya penginapan tersebut adalah dia lebih memprioritaskan rombongan tamu yang menginap di kamar belakang, dia bilang kepada saya dan tamu yang menginap dikamar sebelah saya untuk tidak membuka kran karena air dikamar belakang tidak keluar, boro – boro ketika kran dibuka airnya keluar,,kamipun sama tidak ada air, akhirnya dari pada kesal kalau tetap berada di kamar saya pergi jalan – jalan saja ke pasar sumur, waktu itu hari sudah mulai gelap, saya pikir seperti daerah wisata yang lain kalau malam ada geliat kehidupan hiburan malam, namun ternyata di sumur tidak ada sama sekali tempat hiburan malam yang ada adalah suasana yang sunyi dan sepi, seolah – olah kita benar – benar hidup didaerah pedalaman, kemudian karena tidak ada suasana yang khas dari daerah ini, sayapun balik lagi ketempat penginapan dan ternyata air belum juga keluar,,dengan perasaan yang dongkol saya tidur saja, dengan ditemani oleh suara hembusan angin yang cukup kencang membuat suasana jadi makin mencekam,tapi akhirnya saya tertidur juga.

Esok harinya sebelum azan subuh berkumandang saya sudah bangun,namun ternyata air belum juga mengalir dari kran, saya pun komplain kepada ibu yang jaga wisma, kemudian ke pak edi juga,tapi kata pak edi karena kondisi musim kemarau jadi kesulitan air,namun hal itu bukan suatu alasan yang bisa diterima oleh saya,,harusnya pak edi sebagai pemilik wisma sarang badak sudah bisa mengantisipasi kondisi seperti ini,dia bikin bak penampungan air yang besar supaya tidak ada masalah air buat pengunjung wismanya, dan saya lihat juga nih orang typenya pengin untung gede dari tempat usahanya tapi tidak memberikan kenyamanan buat pengunjung, misalkan adalah di depan wisma itu jalanan sudah dibeton jadi ada rentang antara jalan beton dengan jalan menuju ke wisma dia yang cukup dalam yang bikin pengendara agak kerepotan, nah sama dia itu jalan sama sekali tidak ditambal supaya orang yang mau ketempat usahnya jadi enak untuk keluar masuk, memang susah kalau usaha belum ada pesaingnya jadi pola pikir dia yang butuh tuh kita para pelancong bukan dia sipemilik wisma, mungkin kalau disitu banyak penginapan barulah dia berpikir untuk berbuat yang lebih baik dalam memberikan pelayanan kepada tamu karena sudah ada pesaingnya.

Setelah sholat subuh saya jalan  - jalan lagi ketepian pantai kali ini saya menuju kepantai yang dekat dengan penyeberangan ke pulau umang, kalau disitu kondisi pantainya agak kotor mungkin karena dekat dengan perahu nelayan yang pada bersandar, setelah puas melihat pantai saya mencari orang yang jual sarapan pagi buat ngisi perut, dan akhirnya dapat kebetulan ibu yang jualan nasi uduk tersebut orangnya enak diajak ngobrol, jadi sambil makan saya ngobrol sama beliau, dan ternyata penginapan didaerah sumur tidak hanya wisma sarang badak saja ada juga wisma rhino yan letaknya dekat dengan pasar sumur,disitu menurut penuturan sang ibu tadi fasilitasnya memang nga jauh berbeda dengan wisma sarang badak, namun kalau masalah air tidak pernah ada kecuali kalau listrik mati karena memang belum ada genset, setelah kenyang sayapun jalan – jalan lagi ke lokasi PANTAI CINIBUNG, disana saya lihat ada beberapa orang yang lagi mancing, karena sudah tidak ada lagi celana pendek buat mandi, akhirnya saya cuma sebentar doang disana, dan saya balik lagi ke penginapan, ketika saya buka kran ternyata air sudah keluar jadi langsung saja saya mandi dan berkemas untuk pulang lagi ke rumah karena sudah kangen dengan celotehan anak saya.

Demikian sekilas perjalanan saya ke Taman Nasional Ujung Kulon,,terima kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar